BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya politik dan sosialisasi
politik adalah pendekatan yang cukup akhir di dalam ilmu politik. Pendekatan
ini lahir setelah tuntasnya penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti Amerika
Serikat yaitu Gabriel A. Almond dan Sydney Verba. Hasil penelitian tersebut
dituangkan di dalam buku mereka Budaya Politik, yang merupakan hasil kajian
antara tahun 1969 sampai dengan 1970 atas 5000 responden yang tersebar di 5
negara: Amerika Serikat, Inggris, Italia, Meksiko, dan Jerman Barat.
Budaya politik berarti kecenderungan
berperilaku individu terhadap sistem politik yang berlaku di negaranya. Dalam
pendekatan budaya politik, individu merupakan subyek kajian yang utama dan
bersifat empiris, dalam arti pendapat orang per oranglah yang membangun
kesimpulan penelitian. Ini berbeda dengan pendekatan filsafat politik,
misalnya, yang lebih bersifat abstrak oleh sebab pendapat dibangun oleh
seseorang tanpa terlebih dahulu melihat fakta lapangan, atau paling tidak,
melalui serangkaian penelitian yang melibatkan orang banyak. Potret
Indonesia.
Sementara itu, sosialisasi politik merupakan instrumen yang berupaya
melestarikan sebuah sistem politik. Melalui serangkaian mekanisme dalam
sosialisasi politik, individu dari generasi selanjutnya dididik untuk memahami
apa, bagaimana, dan untuk apa sistem politik yang berlangsung di negaranya
masing-masing berfungsi untuk diri mereka.
Budaya politik adalah cara individu berpikir, merasa,
dan bertindak terhadap sistem politik serta bagian-bagian yang ada di dalamnya,
termasuk sikap atas peranan mereka sendiri di dalam sistem politik.
Orientasi/kecenderungan individu
terhadap sistem politik terbagi 3, yaitu:
- Orientasi Kognitif -
Pengetahuan atas mekanisme input dan output sistem politik, termasuk
pengetahuan atas hak dan kewajiban selaku warganegara.
- Orientasi Afektif -
Perasaan individu terhadap sistem politik, termasuk peran para aktor
(politisi) dan lembaga-lembaga politik (partai politik, eksekutif,
legislatif, dan yudikatif).
- Orientasi Evaluatif -
Keputusan dan pendapat individu tentang obyek-obyek politik yang secara
tipikal melibatkan standar nilai, kriteria informasi dan perasaan,
misalnya tampak saat pemilu.
Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki
peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Manusia dalam kedudukannya
sebagai makhluk sosial, senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam
upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang
bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah).
Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan
penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status
sebagai anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan
sebagainya.
Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir
selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol
maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau
tidak langsung dengan praktek-praktek politik. Jika secara tidak langsung, hal
ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik
yang terjadi. Dan jika secara langsung,
berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas, yaitu:
1.
Apakah yang dimaksud dengan Sosialisasi Budaya Politik?
2.
Apa Peran dan Pentingnya Sosialisasi Politik?
C.
Tujuan
Tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana Sosialisasi Budaya Politik,
Peran dan Pentingnya Sosialisasi Politik.
D.
Metode
Penulisan
Makalah
ini dibuat dengan menggunakan metode pustaka.
E.
Kegunaan
Makalah
Diharapkan dapat memberikan informasi
kepada pembaca agar bisa lebih mengetahui
Sosialisasi Budaya Politik, peran dan Pentingnya Sosialisasi Politik.
F.
Sistematika
Penulisan
Makalah
ini tersusun dalam 3 bab,yaitu:
Bab I : Memuat pendahuluan yang terdiri dari
latar belakang, rumusan
masalah, tujuan, metode, kegunaan dan sistematika
penulisan.
Bab
II : Menguraikan kajian teori/
pembahasan dari rumusan masalah.
Bab
III : Berisi penutup yang terdiri dari
kesimpulan dan saran.
BAB II
KAJIAN TEORI
1.
Pengertian Sosialisasi Budaya Politik
Makna
Sosialisasi Kesadaran Politik
Sosialisasi
politik merupakan konsep yang diperkenalkan oleh seorang sarjana Amerika Robert
Hyman pada tahun 1950-an. Menurut Hyman, sosialisasi politik adalah suatu
proses penyerapan nilai dari lingkungan sistem politik ataupun masyarakat
terhadap individu atau terhadap masyarakat secara keseluruhan. Konsep ini
muncul ketika para ilmuwan politik menyadari bahwa pewarisan nilai dan
kepentingan serta prilaku politik selalu terjadi dan merupakan satu proses yang
penting artinya dalam kehidupan politik. Kaitan antara sosialisasi politik dan
sistem politik dijelaskan oleh David Easton dan Janck Dennis. Keduanya
mengemukakan bahwa tujuan sosialisasi politik adalah untuk memantapkan sistem
politik itu sendiri. Dengan diserapnya nilai-nilai politik atau
orientasi-orientasi politik dari suatu sistem politik, maka diharapkan bahwa
warganegara mempunyai seperangkat pengetahuan atau seperangkat nilai yang
diperlukan untuk mendukung terpeliharanya sistem politik .
Sosialisasi politik
merupakan satu konsep yang menentukan prilaku politik masyarakat. Dalam banyak
masyarakat, pelestarian norma dan sikap politik dari satu generasi ke generasi
selanjutnya sangat penting artinya bagi tegak berdirinya satu kekuatan politik
(partai). Sosialisasi yang baik dianggap dapat meningkatkan stabilitas politik.
Proses sosialisasi politik ini dapat terjadi karena pendidikan politik yang
sering diadakan. Secara
umum, sosialisasi melalui tiga buah proses, yaitu kognitif, afektif, dan
evaluatif. Kognitif adalah proses seseorang memperoleh pengetahuan. Sedangkan
ketika pikiran seseorang terpengaruhi oleh pengetahuan yang diperolehnya
merupakan penjelasan dari afektif. Sedangkan ketika telah memasuki proses
penilaian maka telah berada pada proses yang terakhir, yaitu evaluatif.
Beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli.
a) Gabril A. Almond
Sosialisasi politik menujuk pada proses dimana sikap-sikap politik dan
pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk dan juga merupakan
sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik kepada
generasi berikutnya.
b) Kenneth P. Langton
Sosialisasi politik adalah cara bagaimana masyarakat meneruskan kebudayaan
politiknya.
c) Hyman
Sosialisasi politik merupakan cara-cara belajar seseorang terhadap
pola-pola sosial yang berkaitan dengan posisi-posisi kemasyarakatan yang
ditengahkan melalui berbagai macam badan masyarakat.
d) Fred. L Greenstein
Sosialisasi politik merupakan penanaman informasi, nilai-nilai, dan
praktik-praktik politik yang sengaja dilakukan oleh badan-badan instruksional
secara formal.
e) Michael Rush dan Philip Althoff
Sosialisasi politik adalah proses bagaimana memperkenalkan sistem politik
pada seseorang dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi-reaksi
terhadap gejala-gejala politik.
Berikut ini
adalah beberapa poin penting dalam pengertian sosialisasi politik.
a.
Sosialisasi secara fundamental
merupakan proses hasil belajar dari pengalaman/pola-pola reaksi.
b.
Memberikan indikasi umum hasil
belajar tingkah laku individu dan kelompok dalam batas-batas yang luas dan
lebih khusus berkenaan pengetahuan atau informasi, motif-motif(nilai-nilai),
dan sikap-sikap.
c.
Sosialisasi tidak dibatasi pada
usia anak-anak dan remaja saja (walaupun periode ini paling penting), tetapi
sosialisasi berlangsung sepanjang hidup.
d.
Sosialisasi merupakan prakondisi
yang diperlukan bagi aktivitas sosial dan secara eksplisit memberikan
penjelasan menegenai tingkah laku sosial.
Jadi sosialiasi politik adalah suatu proses untuk
memasyarakatkan nilai-niali atau budaya politik kepada masyarakat. Sosialisasi
politik harus dilakukan terus menerus selama hidup seseorang.
Sosialisasi
merupakan proses induksi ke dalam kultur politik yang sama. Proses sosialisasi
adalah proses seseorang mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan tingkah laku
masyarakat. Dalam bahasa yang berbeda, sosialisasi politik merupakan proses
sosial pewarisan nilai dan pembentukan prilaku politik melalui agen-agen
politik dan berjalan sepanjang hidup seseorang (Bau, 2003: 38).
Ranney
(1996) juga menyebutkan tahapan sosialisasi politik. Tahapan-tahapan tersebut
antara lain : pengenalan nilai dan pola tingkah laku politik, melakukan seleksi
dan pemantapan nilai dan pola tingkah laku politik, dan akhirnya
institusionalisasi nilai dan pola tingkah laku politik. Kemudian pertemuan
antara institusionalisasi dengan institusionalisasi lainnya disebut dengan
budaya politik. Budaya politik amat tergantung kepada sosialisasi politik karena
sosialisasi politik dapat mempertahankan budaya politik.
Bau
(2003) menyebutkan bahwa keluarga dan sistem pendidikan merupakan dua institusi
yang sangat penting dalam proses sosialisasi politik disamping partai politik
sendiri, juga peer groups, media massa, kelompok terorganisir, kelompok
informal, atau individu yang berpengaruh juga merupakan agen sosialisasi
politik yang baik.
2.
Mekanisme Sosialisasi Pengembangan Budaya Politik
Dalam
upaya pengembangan politik, sosialisasi politik sangat penting karena dapat
membentuk dan mentransmisikan budaya politik suatu bangsa, selain itu juga
dapat memelihara budaya politik suatu negara dalam peyampaian budaya politik
dari suatu generasi ke generasi berikutnya, serta dapat mengubah budaya politik.
Untuk dapat membentuk, mentrasmisisikan, memelihara, dan
mengubah nilai, sikap, pandangan maupun keyakinan politik diperlukan
sarana-sarana dan agen-agen penunjang sosialisasi politik. Sarana-sarana dan
agen-agen tersebut, antara lain :
|
SARANA DAN AGEN
|
KETERANGAN
|
|
Keluarga
|
Keluarga merupakan lembaga atau kelompok sosial paling
awal dijumpai oleh seorang anak (individu). Nilai, sikap, kaidah yang
diperkenalkan kepada anak tidak secara eksplisit mengenai masalah politik,
namun dalam keluarga yang demokratis anak akan lebih banyak mendapat
kebebasan, sedangkan di dalam keluarga yang demokratis anak akan lebih banyak
tertekan.
Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai
politik yang paling efisien dan efektif adalah keluarga. Dalam
keluarga, orang tua dan anak sering melakukan obrolan ringan tentang segala
hal menyangkut politik, sehingga tanpa disadari terjadi transper pengetahuan
dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.
|
|
Sekolah
|
Di sekolah, melalui pelajaran Civics Education (Pendidikan
Kewarganegaraan), siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan
berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai
politik dan praktis. Dengan demikian, siswa telah memperoleh pengetahuan awal
tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar
dari sudut pandang akademis.
Pemilihan sekolah sebagai sarana
sosialisasi politik di dasarkan pada pertimbangan bahwa :
a)
Sekolah sebagai media pembelajaran politik yang dinamis
b)
Pelajar sebagai pemilih rasional dan kritis
c)
Potensi pelajar sebagai pelopor di tengah masyarakat
d)
Jumlah pelajar yang akan memilih cukup signifikan
|
|
Kelompok Ber-main
|
Seorang individu atau seseorang akan
tertarik kepada masalah politik, apabila teman-temannya dalam kelompok itu
tertarik kepada masalah politik.
|
|
Pekerjaan
|
Organisasi yang dibentuk atas dasar
pekerjaan dapat berfungsi sebagai saluran informasi tentang hal yang
menyangkut masalah politik dengan jelas, atau paling tidak akan mempunyai
pengaruh apabila yang bersangkutan terjun secara aktif di dalam organisasi
politik.
|
|
Media Massa
|
Melalui media massa masyarakat dapat
memperoleh informasi politik, dimana media massa dapat mempengaruhi sikap dan
keyakinan politik maupun ideologi seseorang.
|
|
Kontak Politik Langsung (Partai Politik)
|
Selain melalui sarana keluarga, sekolah, dan partai
politik, sosialisasi politik juga dapat dilakukan melalui peristiwa sejarah
yang telah berlangsung (pengalaman tokoh-tokoh politik yang telah
tiada). Melalui berbagai seminar, dialog, debat, dan sebagainya yang
disiarkan ke masyarakat, tokoh-tokoh politik juga secara tidak langsung
melakukan sosialisasi politik.
|
3.
Peran dan
Pentingnya Sosialisaisi Politik
Sosialisasi politik merupakan di mana
seseorang dapat mengetahui berbagai macam pengetahuan dari interaksi dengan
lingkungan masyarakatnya, baik pengetahuan moral, nilai-nilai dan pola sikap
perilaku politiknya.
Proses sosialisasi politik juga dapat terjadi melalui kelompok-kelompok senggang dan media massa. Agen-agen sosialisasi tersebut menghasilkan atau membentuk suatu pengetahuan ,nilai-nilai dan sikap-sikap politik suatu individu dan kelompok dalam suatu masyarakat.
Proses sosialisasi politik juga dapat terjadi melalui kelompok-kelompok senggang dan media massa. Agen-agen sosialisasi tersebut menghasilkan atau membentuk suatu pengetahuan ,nilai-nilai dan sikap-sikap politik suatu individu dan kelompok dalam suatu masyarakat.
1.
Makna sosialisasi
politik
Menurut pandangan alfian, ada dua hal yang perlu di perhatikan ,antara lain sebagai berikut :
Menurut pandangan alfian, ada dua hal yang perlu di perhatikan ,antara lain sebagai berikut :
§
Sosialisasi politik hendaknya dilihat sebagai suatu proses yang berjalan terus
menerus.
§ Sosialisasi politik dapat berwujud transmisi
yang berupa pengajaran secara langsung
§ Proses
itu berlangsung dalam keluarga, sekolah, kelompok pergaulan, kelompok kerja,
dan media massa atau kelompok politik langsung.
Ada dua alasan yang melatar belakangi sosialisasi politik menjadi kajian dalam politik kenegaraan,yaitu:
Ada dua alasan yang melatar belakangi sosialisasi politik menjadi kajian dalam politik kenegaraan,yaitu:
§ Sosialisasi
politik dapat berfungsi untuk memelihara agar suatu sistem berjalan dengan baik
dan positif
§ sosialisasi politik ingin menunjukkan
relevansinnya dengan sistem politik dan data mengenai orientasi anak-anak
terhadap budaya politik orang dewasa, dan pelaksanaannya di masa mendatang
mengenai sistem politik.
1.
Mekanisme Sosialisasi
Budaya Politik
Perkembangan sosialisasi politik di awali pada masa kanak kanak atau remaja.tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan . peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Menurut Easton dan Dennis ada 4 tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak, yaitu:
1. Pengenalan otoritas pada individu tertentu
2. perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan eksternal
3. pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal
4. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktifitas yang diasosialisasikan dengan institusi-institusi ini.
Perkembangan sosialisasi politik di awali pada masa kanak kanak atau remaja.tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan . peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Menurut Easton dan Dennis ada 4 tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak, yaitu:
1. Pengenalan otoritas pada individu tertentu
2. perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan eksternal
3. pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal
4. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktifitas yang diasosialisasikan dengan institusi-institusi ini.
Suatu penelitian secara khusus telah di
lakukan guna menyelidiki nilai nilai . Nilai nilai itu sendiri adalah :
1.Tradisi
agama,ikatan-ikatan keluarga dan tradisi pada umumnya
2. Prestasi
ketekunan, pencapaian/perolehan, ganjaran-ganjaraan material mobilitas sosial.
3.pribadi
Kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kemurahan hati
4. Penyesuaian Diri
Bergaul dengan baik, menjauhkan diri dari kericuhan,menjaga keamanan dan ketemtraman
5.Intelektual
Belajar dan pengetahuan sebagai tujuan
6.Politik
Sikap-sikap,nilai-nilai,dan kepercayaan berkaitan dengan pemerintahan.
Adapun dari berbagai cara perantara dari sosialisasi politik di atas, di sini akan di beri tiga contoh :
1.Tradisi
agama,ikatan-ikatan keluarga dan tradisi pada umumnya
2. Prestasi
ketekunan, pencapaian/perolehan, ganjaran-ganjaraan material mobilitas sosial.
3.pribadi
Kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kemurahan hati
4. Penyesuaian Diri
Bergaul dengan baik, menjauhkan diri dari kericuhan,menjaga keamanan dan ketemtraman
5.Intelektual
Belajar dan pengetahuan sebagai tujuan
6.Politik
Sikap-sikap,nilai-nilai,dan kepercayaan berkaitan dengan pemerintahan.
Adapun dari berbagai cara perantara dari sosialisasi politik di atas, di sini akan di beri tiga contoh :
Ø Keluarga
Keluarga adalah wadah sosialisasi nilai-nilai politik yang paling efesien dan efektif. Dalam keluarga orang tua dan anak sering melakukan percakapan ringan tentang pengetahuan politik kepada anak.
Keluarga adalah wadah sosialisasi nilai-nilai politik yang paling efesien dan efektif. Dalam keluarga orang tua dan anak sering melakukan percakapan ringan tentang pengetahuan politik kepada anak.
Ø Sekolah
Di sekolah melalui pelajaran Civies Education (pendidikan kewarganegaraan) siswa dan guru bertukar informasi dan berinteraksi membahas topik-topik yang mengandung nilai-nilai politik tertulis dan praktis. Maka siswa mudah menerima pengetahuan politik sejak dini dan nilai-nilai politik dengan benar.
Di sekolah melalui pelajaran Civies Education (pendidikan kewarganegaraan) siswa dan guru bertukar informasi dan berinteraksi membahas topik-topik yang mengandung nilai-nilai politik tertulis dan praktis. Maka siswa mudah menerima pengetahuan politik sejak dini dan nilai-nilai politik dengan benar.
Ø Partai
politik
Salah satu fungsi partai politik adalah memaikan peran agen sosialisasi politik. Artinya partai politik telah merengkrut para anggota kader dan simpatisannya mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya saat kampanye maupun secara periodik.
Salah satu fungsi partai politik adalah memaikan peran agen sosialisasi politik. Artinya partai politik telah merengkrut para anggota kader dan simpatisannya mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya saat kampanye maupun secara periodik.
2.
Fungsi dan peranan Partai Politik
Partai politik merupakan unsur utama dalam budaya politik suatu negara. Sistem politik dalam suatu negara juga di tentukan dengan jumlah partai yang berdiri. Keadaan demikian sudah menjadi tatanan budaya politik yang ideal di mana ada partai pemerintah dan ada pula yang disebut sebagai partai oposisi.
Partai politik merupakan unsur utama dalam budaya politik suatu negara. Sistem politik dalam suatu negara juga di tentukan dengan jumlah partai yang berdiri. Keadaan demikian sudah menjadi tatanan budaya politik yang ideal di mana ada partai pemerintah dan ada pula yang disebut sebagai partai oposisi.
Sosialisasi politik berperan mengembangkan serta memperkuat sikap
politik di kalangan warga masyarakat yang sadar politik, yaitu sadar akan hak dan
kewajiban dalam kehidupan bersama. Peranan tersebut
melibatkan keluarga, sekolah, dan lembaga-lembaga tertentu yang ada
dalam masyarakat.
3.
Proses
Sosialisasi Budaya Politik
Dalam proses sosialisasi
politik, kita mengenal adanya dua jalur sebagai berikut.
a.
Sosialisasi Politik Horizontal
individu dipengaruhi oleh institusi –institusi masyarakat
yang ada dalam tingkatan yang sama dengan individu tersebut. Contoh : teman
kerja, teman sekolah/teman-teman
b.
Sosialisasi Politik Vertikal
Sosialisasi politik vertikal adalah suatu proses dimana
individu-individu dipengaruhi oleh institusi-institusi masyarakat yang memiliki
tingkatan yang berbeda, searah, ataupun timbal balik. Contoh : atasan kepada
bawahan, pemerintah kepada rakyat.
Adapun jika ditinjau dari metode penyampaian pesan yang dilakukan, maka
sosialisasi politik dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut.
a.
Pendidikan Politik
Pendidikan politik merupakan
proses dialogi antara pemberi dan penerima pesan. Melalui pendidikan politik,
masyarakat memahami serta mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan
simbol-simbol politik negaranya. Proses ini dilakukan dalam upaya pemahaman,
penghayatan, dan kursus, latihan kepemimpinan, aktif dalam organisasi, dll.
b.
Idoktrinasi Politik
Proses idoktrinasi politik
merupakan cara atau proses penurunan nilai-nilai/budaya politik yang dilakukan
secara sepihak. Biasanya idoktrinasi politik dilakukan penguasa/pemimpin dengan
cara memanipulasi masyarakat agar bersedia menerima nilai, norma, serta simbol
yang dianggap baik oleh pihak penguasa. Proses ini dilakukan misalnya dengan
latiahan yang penuh disiplin, partai politik dalam sistem politik-politik
otoriter, pengarahan yang penuh paksaan psikologis dll.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep
ini muncul ketika para ilmuwan politik menyadari bahwa pewarisan nilai dan
kepentingan serta prilaku politik selalu terjadi dan merupakan satu proses yang
penting artinya dalam kehidupan politik. Kaitan antara sosialisasi politik dan
sistem politik dijelaskan oleh David Easton dan Janck Dennis. Keduanya
mengemukakan bahwa tujuan sosialisasi politik adalah untuk memantapkan sistem
politik itu sendiri. Dengan diserapnya nilai-nilai politik atau
orientasi-orientasi politik dari suatu sistem politik, maka diharapkan bahwa
warganegara mempunyai seperangkat pengetahuan atau seperangkat nilai yang
diperlukan untuk mendukung terpeliharanya sistem politik .
Sosialisasi
politik merupakan di mana seseorang dapat mengetahui berbagai macam pengetahuan
dari interaksi dengan lingkungan masyarakatnya, baik pengetahuan moral,
nilai-nilai dan pola sikap perilaku politiknya.
Proses sosialisasi politik dapat terjadi melalui
kelompok-kelompok senggang dan media massa. Agen-agen sosialisasi menghasilkan atau membentuk suatu pengetahuan
,nilai-nilai dan sikap-sikap politik suatu individu dan kelompok dalam suatu masyarakat.
B. Saran
Penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk
menyempurnakan makalah ini di waktu yang akan datang. Makalah ini tidak luput dari kesalahan, karena harus lebih banyak
diperlukan informasi yang lebih jelas dan akurat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah
pengetahuan pembaca terutama para mahasiswa.
DAFTAR
PUSTAKA
v http://tscumum2011.blogspot.com/2012/05/makalah-pkn-pentingnya-sosialisasi.html#f5g3CcrpmvC0AmP8.99
TUGAS MAKALAH
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
(Sosialisasi
Budaya Politik, Peran dan Pentingnya Sosialisasi Politik)
Pembimbing: Dra. Erlana Abdulah
Disusun Oleh:
Noviani Nurma Arif
XI IPA 3
14
SMA NEGERI 2
BANGUNTAPAN
BANTUL
YOGYAKARTA
TAHUN 2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan YME atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Sosialisasi Budaya Politik,
Peran dan Pentingnya Sosialisasi Politik” ini dengan lancar. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh guru pembimbing
mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan yaitu Dra. Erlana Abdulah. Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan data-data sekunder yang penyusun peroleh dari buku panduan yang
berkaitan dengan, Sosialisasi Budaya Politik, Peran dan Pentingnya
Sosialisasi Politik. Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atas bimbingan dan arahan dalam
penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan pelajar yang telah mendukung sehingga dapat
diselesaikannya makalah ini.
Penyusun harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai, Sosialisasi
Budaya Politik, dan Pentingnya Sosialisasi Politik. Memang makalah ini masih jauh dari
sempurna, maka penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Yogyakarta, Agustus 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMANJUDUL.............................................................................................
KATAPENGANTAR...........................................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... ....
a. Latar
Belakang..................................................................................
b. Rumusan
Masalah..............................................................................
c. Tujuan...............................................................................................
d. Metode
Penulisan..............................................................................
e. Kegunaan Makalah............................................................................
f. Sistematika Penulisan.........................................................................
BAB II KAJIAN TEORI.......................................................................................
A. Pengertian Sosialisasi
Budaya Politik............................................................
B. Mekanisme Sosialisasi
Pengembangan Budaya Poliik.......................
C. Peran dan Pentingnya
Sosialisasi Poltik............................................
D. Proses Sosialisasi
Politik...................................................................
BAB
III PENUTUP..............................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................
B. Saran................................................................................................
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar